Kapitalisme Pendidikan (Jilid I)

Syarif Wakano

“Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil. Selama orang percaya bahwa kemerdekaan akan tercapai lewat putsch atau anarkisme itu hanyalah impian seorang yang lagi demam.“  
– Tan Malaka –
  (Masa Aksi, 1926)

Kepentingan berkuasa dalam memperoleh kebutuhan merupakan dasar dari keinginan manusia untuk hidup. Namun kepentingan berdasarkan kekuasaan ini sering disalah artikan oleh sebagian individu, kelompok dan golongan dalam memandang nilai-nilai hidup. Kesalahan dalam nilai akan berakibat buruk pada tindakan dalam menjalani tatanan hidup.
Makna atas kuasa sejatinya datang dari hasrat manusia dalam diri. ketika hasrat dibenturkan atas kenyataan. Hakikat dari kenyataan tidak bisa dirubah. Yang berubah hanyalah ide dan interpretasi manusia dalam memandang kenyataan hidup. Kenyataan akan berbuah baik, jika pemaknaan atas hidup dapat difikirkan dengan sebaik-baik fikiran yang murni.
Hal menakutkan jikalau kenyataan berubah menjadi Sekelompok kepentingan dengan hasrat keinginan menghisap dan memonopoli kepentingan yang lain. Artinya tidak ada lagi suatu kesetaraan dalam memperoleh hak yang sama. Yang ada hanyalah suatu perbedaan kelas antara si miskin dan si kaya. Si kaya dengan modal yang besar akan membeli tanah dan tenaga pekerja dalam kmembangun alat produksi-nya, dengan ini sikaya memperoleh keuntungan yang besar dan berlipat.
Sementara si miskin hanya bertahan pada benda yang dimiliki dengan jumlah terbatas tanpa memiliki produksi. Lambat laun si miskin akan menjadi berkurang dan terus terbatas sampai si miskin tidak lagi memiliki hasil yang dimilikinya. Si miskin akan memperoleh keuntungan jikalau si miskin dapat bekerja pada si kaya. Nasib si miskin memang telah ditetapkan menjadi kodrat si kaya. Inilah yang dimaksudkan dengan arti dari capitalism mengambil keuntungan manusia dan materi dengan menggandakan hasil, menghisap dan dihisap.
Paham Kapital menjadi buah racun mematikan, Jika aset kekayaan negara dicaplok sekelompok elite-kepentingan. melalui kerja sama pemerintah dalam menentukan kebijakan penanaman modal asing secara terbuka. Jalan paksa dijadikan aturan mengikat untuk ditaati oleh negara. Dengan ini membuka pemilik modal untuk lebih leluasa dan bebas menjalankan keinginan terus berkuasa. Sementara si miskin akan terus terperosok jauh ke bawah, karena terus dibatasi oleh kepentingan pemodal.

 Pendidikan memacu setiap manusia untuk terus berpikir dan mencari jalan keluar pada si miskin untuk tetap memperoleh hak yang sama dalam pendidikan. Pendidikan merupakan matahari yang terus memberikan terang dan secara sadar dalam “memanusiakan-manusia”. Pendidikan membebaskan manusia dari sifat lahir akan kuasa atas benda, pendidikan merupakan ajaran atas nilai kehidupan terhadap manusia dalam berbuat kebaikan terhadap sesama. Tidak menjadikan perbudakan atas benda.

Pendidikan yang berorientasi pada “materialisme/benda” akan mematikan pandangan hidup dan menjadikan manusia menjadi budak atas ketergantungan mesin-mesin industri. Benda memaksa manusia untuk berkeinginan menjadi kaya dan terus berkuasa. Pemahaman berdasarkan kuasa atas benda menjadikan benda menjadi suatu yang bernilai tinggi melebihi atas kodrat manusia dalam hidup. Batasan-batasan pendidikan akan tercipta melalui suatu kepemilikan benda yang berorientasi pada kekuasaan.
Melihat pada kenyataannya, mental-mental perbudakan ternyata terus dipelihara oleh raksasa penguasa yang memegang sistem modal saat ini. Orientasi pada pembebasan manusia atas ketertindasan manusia dalam memperoleh kesetaraan hak dalam hidup tidak menjadi suatu alasan bersama. Semua berjalan pada masing-masing kepentingan untuk bekerja kepada si kaya/modal dalam memperoleh keuntungan mereka. Bukannya dikatakan budak kalau tetap tunduk pada kekuasaan dan terus menjadi hewan pesuruh bagi pemilik majikannya.
Pendidikan sudah tidak lagi menjadi orientasi yang bernilai dalam menjadikan manusia memperoleh hak untuk cerdas. Ekonomi pasar menjadi tujuan pendidikan saat ini dimana setiap orang yang masuk dalam instansi/lembaga pendidikan sudah menjadi kewajiban untuk membayar, apapun harus membayar. Pendidikan menjadi produk instant, asalkan mendapatkan ijasah setiap orang berhak untuk diterima bekerja. Ijasah menjadi tujuan yang mahal untuk memperoleh syarat kerja dalam setiap elemen pemerintahan maupun swasta. Ciptaan-ciptaan pemilik modal memupuk pendidikan bagi si kapital untuk terus melipat gandakan kekayaannya.
Bila kita akumulasikan setiap biaya perkuliahan saat ini, setiap orang yang mendaftar untuk kuliah di perguruan tunggi wajib membayar uang gedung dengan total 10-15 juta rupiah, belum ditambah dengan uang semester yang terus naik sampai pada kisaran 5-7 juta. Jika menghitung pendapatan pekerja, baik pegawai negeri maupun karyawan swasta besar pendapatan mencapai 3-4 juta/bulan. Biaya pekerja ini hanya menyisakan biaya hidup/bulan sebesar 300 ribu, dikali 6 bulan atau 1 semester dalam perkuliahan menjadi 1.800.000. belum lagi membayar uang gedung sebesar 10-15 juta.
Angka ini belumlah mencapai hasil dari setiap biaya pagi si pekerja. Sehingga beban biaya pekerja harus ditutupi dengan hutang.
Belum pada angka pekerja yang setia tahun bertambah. Membuat setiap penerimaan pekerja semakin terbatas. Melihat angka pengangguran yang masih relatif lebih tinggi mengakibatkan sebagian penduduk di Indonesia menjadi terpinggirkan dan tidak bisa melanjutkan sekolah. Sehingga yang ada mahasiswa hanya terbatas pada orientasi uang dan tidak terfokus dalam menciptakan pengembangan dalam keilmuan. Persoalan pasar menjadi sentral utama mahasiswa dan pekerja, sehingga menuntut mereka untuk cepat lulus dan tidak menciptakan keilmuan untuk kehidupan masyarakat. Keterbatasan orang pada lembaga dan tempat bekerja mereka menjadi acuan utama bagi pemodal.
Melihat kenyataan bahwa negara tidak menjamin membuka lapangan kerja bagi setiap mahasiswa maupun setiap warga negara Indonesia. Sehingga membuat mahasiswa yang cepat lulus bingung untuk melanjutkan pekerjaannya.
Keilmuan menjadi barang perdagangan dalam sistem perkuliahan. Bukannya mencerdaskan malah menjadi beban bagi mahasiswa dalam mengembangkan keilmuannya di perguruan tinggi. Pemerintah dan lembaga pendidikan disetiap Universitas maupun disetiap sekolah seakan-akan tidak lagi perduli. malah menjadi acuh-tak acuh terhadap setiap orang yang menuntut pendidikan disetiap lembaganya.
Apapun alasannya bahwa kita sebagai mahasiswa yang berintelektual maupun sebagai agen perubahan sosial (Agen of change). sudah sepatutnya perduli dan menyatakan perang terhadap tindakan penguasa yang merugikan hak setiap orang dalam menuntut Pendidikan.
“Perjuanganku Lebih Mudah Karena Mengusir Penjajah, Perjuanganmu akan Lebih Sulit Karena Melawan Bangsamu Sendiri.” – Ir. Soekarno

         pondok Virgo
 Jakarta, 25 April 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s