Banyak Cerita Dari Kawasan Wisata Gunung Munara

1a
Setelah menapaki alam bawah laut Kalianda Lampung Selatan dan Tracking di kawasan konservasi anak gunung Krakatau, kali ini kita kembali menapaki kaki di Gunung Munara. Tempat wisata pendakian gunung munara ini terletak di Desa Kampung Sawah, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Gunung Munara Bogor merupakan salah satu tujuan wisata alternatif yang mulai banyak dikenal pengunjung, khususnya pengunjung dari daerah Bogor, Jakarta, dan sekitarnya. Para travllers biasa selalu mepo di Stasiun kereta Bogor lalu dengan menyewa angkot kita bisa langsung diantar ke kawasan wisata gunung munara tersebut.

Jangan heran bila sudah masuk ke daerah kawasan gunung munara ini yang sangat banyak pungli (pungutan liar). Hal inilah tempo hari yang sangat mengcewakan sekaligus mengesalkan buat saya. Mulai dari jalan raya utama ketika kita masuk ke gang kecil menuju lokasi tersebut, Angkot pertama saya bersama teman-teman dari komunitas Backpacker Jakarta di hadang 3 orang bocah laki-laki. Menurut perkiraan saya ini bocah masih seumuran anak SMP atau SMA. Dari gaya nya ketika meminta uang Rp.5.000,- untuk satu angkot tanpa karcis retribui resmi susua peraturan daerah kabupaten bogor. Bocah terlihat salah tingkah dengan intonasi suara tak tegas. Kalo memang itu retribusi yang jelas dari pemerintah tentunta itu tugas yang harus di jalankan dengan tegas tapi ini tidak terlihat pada sikap bocah ini. Sebenarnya pengen keluar dari angkot untuk mempertanyakan hal itu, khawatir akan berbuntut panjang nantinya akhirnya Koordinator trip kali ini pada dua angkot kami yang lainya di belakang memberikan uang Rp.15.000 untuk 3 angkot.

P_20170326_100616
Gapura Pintu Masuk Kawasan Wisata Gunung Munara

 

Lalu kami mulai masuk ke dalam gang yang lumayan kecil dan pas pas untuk satu angkot yang di kiri-kananya terdapat rumah-rumah warga setempat. Kemudian kami mulai memasuki kawasan pendakian terlihat gapura Selamat Data Wisata Alam Situs Gunung Munara. Di pintu masuk Gapura tersebut sudah menanti Pos yang di jaga oleh bapak-bapak paruh baya yang menggunakan Tiket Retribusi resmi yang awalnya Rp. 5.000,- per orang, dengan jumlah kami sekitar 35 orang jadi total Rp.175.000,- kemudian Lalu ketika masuk ke area parkir di depan rumah-rumah warga itu kena lagi biaya parkir Rp. 75.000,- untuk 3 angkot ( satu angkot 25 ribu). Jadi awalnya total retribusi masuk 35 orang dan di tambah biaya parkir menjadi Rp. 250.000,-. Setelah negosiasi alot, finalnya menjadi Rp. 200.000,- WOW sekali bukan Travellers.

IMG-20170329-WA0002
Karcis retribusi hanya dengan tanda tangan Kepda Desa (Kades) tanpa mencantumkan peraturan daerah tentang pungutan retribusi

Setelah saya coba mendaki gunung munara dengan ketinggian 367 Mdpl ini lebih cocok mungkin disebut bukit, karena memang tidak terlalu tinggi posisinya. Meskipun demikian pengunjung akan tetap dapat menikmati sensasi hiking naik gunung ringan dengan pemandangan yang cukup indah. Hanya dibutuhkan kurang lebih 1 jam untuk naik ke puncaknya. Bila di bandingkan dengan gunung-gunung lain di jawa barat tentunya Gunung Munara ini masih terbilang sangat Cetek, namun bila pendakian dilakukan pada skitar jam 10 an pagi sangat cukup mengeluarkan keringat bagaikan olahraga Kardio. Perjalanan ini di mulai dari melewati jembatan bambu di atas anak sungai. Harus berhati – hati melewati jembatan ini, karena susunan bambunya jarang-jarang sehingga ada celah di antara bambunya yang bisa membuat kita terjeblos ke bawah. jangan sampai kaki kita terkilir gara-gara ini guys karena pendakian baru saja di mulai.

P_20170326_101159
Basecamp Pendakian Gunung Munara

P_20170326_102431

P_20170326_102611
Jalur Pendakian Gunung Munara

Kondisi medan di munara pada 26 Maret 2017 lalu bagus artinya jalanan tanahnya kering dan tidak basah. Karena itu skitar jam 10.24 Wib Pagi yang masih terlihat matahari pagi yang terang dari timur menuju ke atas titik kepala kita pada jam 12.00 wib nya. Kiri dan kanan di awal jalur pendakian munara ini banyak kebun-kebun warga dan ilalang saja, terlihat dari dokumentasi di atas pagar-pagar pembatas kebun-kebun warga disana.

kemudian sampai lah kami pada Warung Pertama pada jalur pendakian ini yang menjajakan makanan kecil seperti minuman dingin, cemilan dan gorengan. Tenang saja untuk harga cemilan dan makanan disini masih wajar. itung-itung dapat membantu perekonomian warga sekitar.

P_20170326_102921

kemudian masuk lah kami ke jalur pendakian yang di kiri kananya hutan bambu dan jalananya masih tetap tanah kering dan sedikit berbatuan. Tak jauh setelah sekitar 20 menit ada dua orang bapak yang duduk di kiri dan kanan jalan di tengahnya terdapat ember berisi uang. Bentuknya seperti minta sumbangan namun si bapak bilang “ ada berapa orang ? satu oranya Rp.1.000,- ya”. Ya ampun munara ohhh munaraa.

P_20170326_104153
Pos Pungli 1 di Jalur Pendakian Gunung Munara

P_20170326_104122

Kemudian ketika mulai lagi mendaki sekitar 20 menit lagi kami mulai melawati POS lagi berbentuk Pondok yang di depanya ada pagar kecil. Disini terdapat batu besar yang cukup bagus pemandanganya untuk berfoto. Pos ini di jaga dengan abang-abang yang cukup tua menurut saya yang meminta UANG KEAMANAN DAN KEBERSIHAN sebesar Rp. 200.000,- WOW sekali bukan. Pada umumya yang namanya Objek Wisata yang pastinya bawah Dinas Pariwisata kabupaten setempat yang biasa memberdayakan masyarakat sekitar objek wisata baik itu lewat Ormas atau lainya dengan aturan-aturan yang di tetapkan Dinas tersebut. Masyarakat hanya tinggal menjalankanya saja nanti akan dapat bagi hasil tertentu dari kesepakatanya dengan Dinas terkait. Namun Kawasan Wisata Munara ini UNIK, ada aturan resmi Perda terkait namun ada aturan tak resmi dari mereka yang biasa kita kenal dengan PUNGUTAN LIAR (pungli). Hal ini sangat di sayangakan dan mengecewakan.

P_20170326_105734
Pos Pungli 2 di jalur Pendakian Munara

Sejati nya Retribusi menurut UU no. 28 tahun 2009 adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan pribadi atau badan. Retribusi ini sederhananya pungutan biaya yang dikenakan pada orang-orang yang HANYA ketika masuk saja ke tempat-tempat wisata atau parkir. Berbeda dengan Pajak yang wajid kita bayar tiap tahunya pada lembaga pajak pemerintah.

Dari Pos PUNGLI Keamanan dan kebersihan ini lumayan bagus pemadangan yang bisa kita lihat dari atas, telihat permukiman warga dan petak-petak sawah dan bukit-bukit kecil bagaikan dinding di sekelilingnya. lokasi yang pas untuk ber foto adalah di atas batu besar di depan pos tersebut.

17498977_1481032855242381_8511744388228740420_n

P_20170326_105352

P_20170326_143928P_20170326_144136_HDR

Di kawasan wisata gunung munara ini juga terdapat situr keramat gunung munara gadongan kuda, lalu di bawahnya tertulis nama Sultan Maulana Hasanudin Banten bin Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Sultan Maulan ini adalah putra dari syekh Syarif Hidayatullah, Seperti yang kita ketahui Sunan Gunung Jati adalah salah satu wali songo yang berjasa menyebarkan agama islam di daerah jawa.

Cerita punya cerita seperti yang di kutip dari TribunNews.com, Menurut penduduk Kampung Sawah, Sultan Maulana Hasanudin pernah singgah dan bermunajat di Gunung Munara sebelum sampai di Banten. Dulu, dari Cirebon sebelum ke Banten beliau pernah singgah dan bermunajat di batu yang ada di atas gunung,” kata Karnan, warga yang berjualan di depan pintu masuk Situs Gunung Munara. Di kawasan wisata Situs Gunung Munara ada beberapa Gua, di antaranya adalab Gua Gadogan Kuda yang berarti tempat mengikat kuda. menurut Karnan selain Sultan Hasanudin pernah bermunajat di gunung ini, ada bekas tapak tongkat Sultan Hasanudin. Dalam perjalanan tersebut kami tidak menemukan bekas tapak tongkatnya.

Sedikit bercerita tentang Sultan Maulana Hasanuddin ini, beliau sangatlah berpengaruh dalam penyebaran Islam di Banten, karna beliau adalah seorang Sultan yg pertama kali menjadi penguasa di kerajaan Islam di Banten, beliau mendirikan Kseultanan Banten, bahkan beliau mendapatkan gelar Pangeran Sabakingking atau Seda Kikin, gelar tersebut di persembahkan dari kakeknya yaitu Prabu Surasowan pada masa itu Prabu Surasowan menjabat menjadi Bupati di Banten. Sultan Maulana Hasanuddin adalah putera dari Syaikh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Djati) dan Nyi Kawunganten (Putri Prabu Surasowan), beliau adalah seorang sultan yg mengerti akan ekonomi dan politik.

Pada tahun 1526 M Banten Pasisir berhasil direbut oleh Panglima Fadillah Khan dan pasukannya, Hasanudin diangkat menjadi Bupati Banten Pasisir, pada usia 48 tahun. Konon ketika terjadi huru hara, Hasanudin dibantu oleh beberapa pasukannya dari Banten Girang. Kelak dikemudian hari Banten Girang menggabungkan diri dengan wilayah Banten Pesisir, sehingga praktis Hasanudin menjadi penguasa Banten Pasisir dan Banten Girang. Hampir semua penduduk Banten beralih agama menganut Islam. Ia bernama nobat Panembahan Hasanudin.

Untuk memperkuat posisi pemerintahannya, Hasanudin membangun wilayah tersebut sebagai pusat pemerintahan dan administratif. Ia pun mendirikan istana yang megah yang didberi nama Keraton Surasowan, mengambil nama kakeknya (Surasowan) yang sangat menyayanginya. Nama Keraton tersebut akhirnya berkembang menjadi nama kerajaan. Berita ini diabadikan didalam prasasti tembaga berhuruf Arab yang dibuat oleh Sultan Abdul Nazar (1671-1687), nama resmi kerajaan Islam di Banten adalah Negeri Surasowan.

Kurangnya informasi yang di harus nya di cantumkan pada situs-situs seperti ini yang sangat di sayangakan pada kawasan wisata gunung munara ini. lalu di tambah tidak adanya Pemandu wisata. Sebagai Kawasan Wisata, pengelola sudah standar nya harus selalu mencantumkan  informasi-informasi penting terkait situs-situs yang ada di dalam satu kawasan wisata tersebut.

Kemudian di jalan ke arah kiri ke jalur utama pendakian terdapat lorong pas di bawah akar pohon tua besar yang di sisi kananya terdapat batu besar. Lokasi ini cukup Populer untuk berfoto-foto kece para Travellers seperti dokumentasi cewe-cewe berhijab Kece di bawah ini.

IMG-20170327-WA0012

IMG-20170327-WA0013_2

Lalu di lanjutkan kembali pada jalur pendakian berikutnya yang banyak di dominasi batu-batu besar di kiri dan kanan jalur. foto di bawah ini hanya jalur alternatif saja, karena setelah naik ke batu tersebut kita akan turun lain menuju jalur utama pendakianya. Diatas bukit batu ini ada tempat yang bagus untuk foto-foto, yah lumayan bagus lah menurut saya. lihat lah dua cewe Backpacker ini tanpa ragu dan gagah berani memanjat tebing batu tersebut.

17553665_1481033011909032_5671207545715332801_n
Tebing Batu

IMG20170326112640

IMG20170326112133

Kemudian kami melanjutkan perjalanan kembali ke jalur pendakian utama gunung munara. stelah beberapa menit berjalan kami menemui bukit batu yang lebih tinggi dan lebih vertikal dari pada yang tadi sebelumnya. Bila dilihat sangat curam namun dari atas tersedia tali seadanya yang terjuntai sampai kebawah. Dengan tali itulah kami bisa naik kepuncaknya, tapi puncaknya sangat sempit tidak di rekomendasikan naik ke atas sana lebih dari 5 orang karena tidak leluasa dan berbahaya.

17458333_1481032908575709_8685326533613368495_n

P_20170326_114046_BF
Pemandangan Indah dari ujung tebing batu 

Lalu kembali lagi ke jalur utama pendakian, masih terdapat tanjakan yang cukup vertikal ini menjadi tanjakan terkahir menuju puncak gunung munara. Medan tanjakan seperti ini untuk kalian para Travellers jangan Baper (Bawa Perasaan) bila melihat pasangan suami istri yang saling berpegangan tangan membantu pasanganya yaa. Jones ( Jombli Ngenes) cukup pegangan sama sama tanah aja seperti cwe berbaju kuning di bawah ini ( Eaak ). Dengan senyum manisnya melambaikan tangan ke arah pendaki lain dengan harapan dapat pegangan.

P_20170326_115312
Cewe Singel butuh Bantuan Pegangan

Akhirnya tibalah kami di Puncak gunung munara, puncaknya tidak seluas puncak-puncak lain. Dengan kontur tanah yang tidak rata dan beberapa batu-batu besar di pinggir tebingnya menjadi tempat favorit para pendaki untuk mendokumentasikan momen-momennya.

P_20170326_115914P_20170326_130958

Cerita punya cerita tak lama setelah kami tiba puncak gunung munara, perlahan namun pasti hujan mulai rintik-rintik turun. kemudian hujan mulai deras, kami pun langsung berteduh di warung yang berada disitu. Warung kecil itu tentu saja tidak bisa menampung jumlah kami yang banyak ini ditambah dengan pendaki-pendaki lain. lalu dengan inisiatif seorang teman sebut saja Si Cay, beliau langsung mengeluarkan Flysheet berukuran 3×2 meter dan kami pun segera mencari lokasi yang pas untuk memasangnya. akhirnya terpasang sudah dan kami berteduh di bawahnya.

IMG-20170326-WA0033

IMG-20170326-WA0032

Tak lama kemudian setelah terpasang Flysheet hujanpun reda dengan tenangnya. Namun suasana tetap sedikit sejuk. Dengan segelas teh hangat dan para pendaki kece ini suasana pun menjadi hangat. lalu Si Cay ini segera mencari lokasi yang pas untuk memasang Hammock di dekat kami. Beberapa pendaki kece lainya juga mendapatkan lokasi yang bagus buat Hammock an dengan latar yang menawan.

17498905_1481033298575670_6316352414059095371_n

Berikut dokumentasi kece-kece nya dari trip gunung munara kali ini. Cekidot

17362488_1481033305242336_6912020308370424687_n

17425858_1481033521908981_433139336131183501_n
Koordinator (CP) Trip Gunung Munara. Kak Retno (baju biru) dan Bang Wahid ( baju merah), yang dua lagi tukang megang baner.
IMG-20170326-WA0004
Pendaki-pendaki kece Backpacker Jakarta

IMG20170326132826

P_20170326_134747
Perjalanan turun dari puncak munara yang licin karena hujan

Sekian Travel Story saya kali ini ke Gunung Munara bersama Backpacker jakarta. Apabila ada kata-kata yang kurang berkenan di hati para pembaca mohon di koreksi tulisan saya. Tidak lupa juga beberapa saran dan kritik yang membangun untuk pengelola Kawasan wisata gunung munara, diharapkan Praktek Pungutan Liar ini untuk di kemudian hari sudah TIDAK ADA lagi. Hal ini sangat menganggu para pengunjung dan pendaki lainya tentunya sangat menganggu kenyamanan. Lalu menajemen Kebersihan dan pengelolaanya harus di perbaiki lagi seperti info TANDA ARAH jalur pendakian sangat sangat membingungkan karena ada banyak cabang jalur-jalur lain dan minimnya Tanda Arah di dalamnya yang membingungkan. kemudian harus tersedianya informasi pada situs-situs sejarah yang di lokasi pendakian munara ini. tentunya info ini berguna sebagai pengetahuan untuk  para pengunjung. hal ini semua tentunya demi kenyamanan kita bersama. semua itu juga tidak terlepas dari kebijaksanaan peran para pendaki dan pengunjung lainya untuk saling menjaga kawasan gunung munara ini bebas dari sampah-sampah dan coretan-coretan di batu agar kawasan gunung munara ini tetap terjaga sampai pada anak cucu kita kelak. sekian terimakasih

SEE YOU ON THE NEXT TRIP

Advertisements

10 thoughts on “Banyak Cerita Dari Kawasan Wisata Gunung Munara

  1. Gunung Munara itu berasa jalan ke Kebon. Gak berasa gunung hehehe
    iya kali..mgkn krn gw tiap hari pp (Senin-Jum’at) lwt Gunung Sahari
    template blognya bgs ya.. ^_^

    Liked by 1 person

      1. Keringetan dikit…
        Pas plng dr Munara justru yg keringetan byk bgt hahaha
        Jakinya lbh parah dr Munara.
        Hanya untuk cari restoran 😄😄

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s