Menjajal 300 Meter Parang Ferrata

Trip kali ini kita mencoba menapaki sisi luar gunung parang purwakarta, biasa di kenal dengan Rock Climbing Parang via ferrata. Kali ini tentunya saya tidak sendiri, bersama 30 orang pendaki Gokil Badai dari komunitas Backpacker Jakarta, kami mulai perjalanan ini dari stasiun kereta Tanjung Priok. Biasanya untuk menuju purwakarta kita bisa menggunakan kereta dari stasiun kota, namun saat ini kereta menuju stasiun purwakarta kita harus berangkat dari stasiun tanjung priok. Dari stasiun kota juga kita bisa menuju langsung ke stasiun tanjung priok dengan jadwal berangkat ke stasiun tanjung priok jam 14.30 wib, waktu tempuh sekitar 30 menit kita sudah tiba di stasiun tanjung priok. Untuk kereta ke stasiun purwakartanya berangkat sekitar jam 16.00 wib, namun tentunya sebelum jam itu kalian sudah harus ada di stasiun priok (per tanggal 6 Mei 2017).

DSC_0372
Komunitas Backpacker Jakarta

Cerita punya cerita setelah berangkat dari stasiun priok jam 16.00 wib, kami tiba di stasiun purwakarta tepat jam 20.00 wib, normalnya waktu tempuh ke purwakarta sekitar 3 jam tapi kali ini sedikit lebih lama 1 jam dari biasanya. Terkadang kreta jarak jauh sering berhenti cukup lama di stasiun tertentu, kadang juga kreta berhenti menunggu kereta lain dari arah berlawanan yang lewat terlebih dahulu.

Sabtu malam itu kami tiba di purwakarta sebagai informasi kabupaten purwarkarta ini masuk dalam wilayah administrasi Provinsi Jawa Barat, namun seperti biasa setiap sabtu malam selalu ada wisata malam di purwakarta Lokasinya pas disepanjang jalan depan stasiun purwakarta. Disitu kalian akan melihat seperti pasar malam dimana banyak pedagang-pedangan yang manjajakan makanan. Berbagai macam jenis kuliner bisa kalian temui, namun yang paling popular disini adalah sate maranginya yang enak. Disini juga kalian bisa melihat pergeleran seni budaya setempat berupa tarian-tarian budaya setempat yang di bawakan para penari-penari muda yang terampil. Malam mingguan kesini sangat seru, bila bosan dengan suasana malam minggu di mal-mal Jakarta kalian bisa mampir kesini.

P_20170506_204632
Pargelaran Seni Budaya Purwakarta

SAMSUNG CSC
Srikandi Purwakarta 

Setelah makan dan melihat-lihat, kami mulai beranjak ke rumah singgah ka Retno (cepe trip). Rumah cukup besar buat menampung 30 orang disana. Karena yang ikut dari berbagai RT di komunitas Backpacker Jakarta dan ada juga yang di luar komunitas, waktu yang ada kami gunakan untuk perkenalan. Perkenalan yang sangat seru dari mereka semua dengan latar belakang suku dan budaya yang berbeda. Bahkan status yang berbeda, ada yang bilang statusnya “Single”  ada yang bilang “Disamakan” ( uda kayah sekolahan aja), bahkan ada yang bilang statusnya “ menunggu di halalkan” sangat WOW bukan. Begitu menariknya perkenalan malam itu tanpa sadar waktu menunjukan hampir jam 12 malam, kami pun mulai beristirahat karena esok kami harus bangun dini hari untuk berangkat ke lokasi Climbing gunung Parang dengan mobil losbak (Mobil bak terbuka belakang). Khawatir akan di tilang polantas karena membawa orang dalam jumlah banyak menggunakan losbak makanya kami harus berangkat dini hari setelah sholat subuh.

SAMSUNG CSC
Dini Hari Dalam Mobil Losbak

Akhirnya kami tiba di lokasi Climbing jam 07.00 wib, setibanya disana gunung parang terlihat begitu indah dan gagahnya di hadapan kami. Terlihat kabut putih samar-samar menutupi puncaknya. Berdecak kagum kami sumua di buatnya pagi itu.

P_20170507_161303
Badega Parang Purwakarta

P_20170507_071924
Gunung Parang Purwakarta

IMG20170507071527

P_20170507_071704

Lalu setelah istirahat sebentar kami mulai di pasangi peralatan Climbing oleh tim Bedaga Parang. Karena jumlah kami yang banyak cukup butuh waktu lama sampai semua peserta selesai mengenakan peralatan Climbing. Ternyata peralatanya yang ada saat itu tidak cukup untuk kami semua, masih ada beberapa teman yang masih kekuragan pengait sehingga kami harus menunggu rombongan lain yang telah lebih dulu naik turun dari jalur Climbing. Akhirnya sekitar jam 10.00 pagi kami mulai lah Climbing Gunung Parang via Ferrata ini.

P_20170507_075014
Abaikan yang lagi kelaperan makan indomie di saung ( anggap saja tidak ada)

P_20170507_075006
Peralatan Climbing

P_20170507_080812
Pemasangan perlengkapan climbing

IMG20170507083833
KAMI SIAP

Setelah pemasangan selesai kami mulai bergerak menuju titi Climbing dengan sedikit berjalan menelusuri jalan di dalam hutan ini lumayan cukup buat pemasanan sebelum memanjat tebing gunug parang ini.

P_20170507_090550
si ambon sadar kamera

Dalam perjalanan menuju titik panjat, kami sempat terhenti di suatu tempat memiliki pemandangan indah di depanya. terlihat gunung lembu dan waduk jati luhur yang menawan. sedikit disayangkan karena kondisi berkabut membuat waduk jati luhur terlihat samar-samar waktu itu.

P_20170507_093640

IMG_20170507_092752

Ini pengalaman yang baru bagi saya pribadi begitu juga dengan teman-teman yang lain. Biasanya pendakian kami lakukan dengan mengendong Keril besar melewati tanjakan tanah, batu dan pepohonan di jalur pendakian. Namun kali ini kita mencoba mendaki dari sisi luar gunung dengan metode Climbing, pada umumnya Climbing atau Rock Climbing (Panjat Tebing) ini dilakukan dengan standar keselamatan dengan menggunakan tali pengekang di sekitar pinggang, lalu mengaitkanya pada tali besi pada jalur pendakian yang sudah di buat sedemikian rupa agar aman. Terlebih lagi Climbing parang via ferrata ini pada jalurnya menggunakan tangga besi.

P1030712

Jadi Jangan bayangkan ini seperti pendakian-pendakian tebing extream yang biasa dilakukan orang-orang eropa pada tebing batu tanpa tangga besi. Dimana mereka harus memilih sendiri jalurnya dengan pengangan yang kebanyakan hanya tertumpu pada jari-jari tangan saja. lihat lah wanita-wanita tangguh ini dengan senyum riang yang “palsu” di ketinggian seperti itu memanjat seolah-olah tanpa rasa takut sedikitpun.

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

Pendakian ini walau tidak se extream itu tapi tetap saja membuat andrenalin kita naik ketika kita hanya berpijak pada tangga besi dan pengait di ketinggian 300 meter secara vertikal. Pada ketinggian 100 meter kita akan mulai mersakan sensasi yang luar biasa terutama di telapak kaki terasa ngilu seperti mengelitik, detak jantung berdetak kencang dan keringat pun keluar dengan alaminya. Sebenarnya lebih enak mendaki pada waktu pagi hari yang masih segar dengan matahari yang tidak begitu panas, namun saat pendakian ini matahari sedang dengan hebat menuju puncaknya.

P_20170507_113457
ini yang paling greget ketika melepaskan kedua tangan 

Panas nya matahari pun tentu saja tidak bisa di hindari lagi. Berbeda bila kita mendaki gunung dengan melewati tanah, pepohonan yang rimbun dan teduh karena kita berada pada jalur pendakian yang di dalam, namun Climbing ini tentu aja kita menggunakan jalur sisi luar gunung yang terdiri dari bebatuan alami tanpa pepohonan yang tumbuh. Hanya da satu tempat landai atau datar yang terdapat 1 pohon kecil tempat kami berteduh di jalur Ferrata ini. Tentu aja tidak akan muat menampung kami sebanyak 30 orang, secara bergiliran kami yang berada pada garis terdepan memulai lagi pemanjatan pelan-pelan sambil menunggu teman-teman yang lain.

P_20170507_113918

P1030779

Saat berada di ketinggian 300 meter, kami di suguhi dengan pemandangan perkampungan sekitar. Terlihat juga gunung lembu dan bongkok, tidak kalah juga indahnya waduk jati luhur purwakarta ini yang menyejukan mata walau disengat matahari.

P1030785
Titik 300 meter putar balik

Untuk informasi aja buat kalian yang ingin kesana, persiapkan perlengkapan pribadi yang paling penting adalah sarung tangan untuk meminimalisir tangan agar tidak lecet karena sepanjang perjalanan kita harus memegang tangga besi dan pengait yang terbuat dari besi. Kemudian usahakan mengunakan baju lengan panjang atau Baselayer, lalu gunakan celana panjang untuk meminimalisir goresan di kulit pada tebing batu. Celana panjang yang lentur akan lebih baik karena dapat mempermudah kita bergerak saat memanjat. Kemudian gunakan sepatu yang nyaman dan lentur, ada juga beberapa teman yang mengunakan sandal outdoor namun di khawatirkan resiko kaki kita cedera bila saat mendaki kaki kita terbentur dengan tebing batu tersebut.

P1030736
Terlihat samar-samar dalam kabut waduk jati luhur

P_20170507_122543

Keselamatan lainya seperti helm standar sudah di sediakan oleh tim Badega Paranga Ferrata, jadi kalian tidak perlu bawa helm SNI kendaraan dari rumah. Kemudian juga jangan lupa bawa air minum, pendakian ini cukup lama sekitar 3 jam karena biasanya para pendaki melakukan sesi foto-foto kece badai di situ. Sengatan matahari membuat kita makin haus, cukup bawa tas kecil yang muat untuk satu botol air mineral ukuran sedang. baiklah Sekian dulu travel story kali ini ya, tunggu saja perjalanan selanjutnya bila masih ada waktu, dana dan kesempatan. See You On The Next Trip

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s