Budaya Melayu : Lagi-lagi Tanjak

Tanjak juga dikenali sebagai destar, bulang hulu, Tengkolok dan setangan kepala, merupakan sejenis alas kepala tradisional Melayu yang dipakai oleh golongan lelaki. Tanjak ini dibuat dengan menggunakan kain songket atau kain tenun panjang yang dilipat-lipat dan diikat dalam gaya (solek) yang tertentu. Pada zaman sekarang, tanjak lebih banyak dipakai dalam acara-acara yang kental adat istiadat, seperti resepsi pernikahan pada masyarakat melayu yang kenakan oleh pengantin laki-laki. Namun misalnya oleh kerabat Raja ataupun Sultan dan para hadirin dalam majelis istiadat kerajaan, dan oleh pengantin lelaki ketika dalam majelis perkahwinan.

Tanjak ini berawal pada zaman Kesultanan Melayu Melaka. Sebelum zaman itu, sudah menjadi kewajiban rakyat jelata untuk menutup kepala atau mengikat rambut panjang supaya kelihatan kemas atau rapi ketika menghadap Raja. Masyarakat Melayu Melaka mendapat ikhtiar untuk menggunakan kain panjang berbentuk segi empat untuk dilipat-lipat dan diikat menjadi sejenis alas kepala yang rapi untuk dipakai dalam urusan resmi. Seiring berjalanya waktu Ikatan kain ini lama-kelamaan makin lama makin cantik mengikut perkembangan zaman, tanjak ini banyak dimodifikasi atau diubah suai mengikut selera pemakainya.

P_20171207_222558

Namun tanjak ini walaupun sudah di modifikasi, akan tetapi teknik melipatnya harus sesuai dengan sebagaimana mestinya. Tanjak ini hanya boleh di gunakan oleh kaum laki-laki, seperti selayaknya Kopiah/songkok yang hanya di gunakan oleh laki-laki.

Syahrul Afandi ( Pengrajin Tanjak Dumai )

Begitu banyaknya bentuk tanjak ini mengikuti perkembangan zaman, namun ada tanjak yang cukup umum dan populer di masyarakat melayu seperti tanjak Suluk/solok Timbo berasal dari negeri sembilan. Dipakai oleh pegawai atau petinggi kerajaan. Tanjak yang satu ini sangat banyak peminatnya pada masyarakat melayu khususnya masyarakat melayu Dumai-Riau.

Tanjak Solok Timbo

Berdasarkan Tanjak ini dasar utamanya ada dua yaitu pertama Dilipat dan Kedua Disimpul. Tidak seperti membuat baju dipotong pola lalu di jahit satu persatu bagianya sehingga terbentuk sebuah baju. Dari selembar kain segi 4 (1 meter), di lipat menjadi bujur sangkar, atau di bagi 2 menjadi segi tiga kemudian barulah digunakan seni melipat dan menyimpul sehingga jadi sebuah tanjak.

P_20171207_205639

Susun 4 lipat palas yg mengarah ke bawah, khusus solok timbo menandakan pegawai kerajaan kalau atau rakyat biasa. Lipat “bunting menantu”, di depan lawi atau lambaian ibu, simpul belakang bernama “ketupat palas”.

P_20171207_214308
Empat Susun Lipat Kebawah disebut lipat palas
P_20171207_214339
Lipat bunting menantu

Lipatan “bunting menantu” inilah yang membuat bagian depan depan tanjak terlihat mengembung ke depan layaknya seperti orang “hamil”.

P_20171207_214203
Lawi ( Lambaian Ibu ) yang mengarah ke kiri
P_20171207_214357
Simpul Ketupat Palas

Ada juga Azaz lipat tanjak “Dendam tak sudah” tanjak ini biasa khusus hanya di pakai oleh Sultan. Perbedaan hanya terletak pada arah lawi dan lipatnya terdapat 7 jenjang. Tanjak sultan mengarah ke kanan sedangkan “Solok Timbo” mengarah ke kiri yang biasa Digunakan pada perhelatan resmi seperti pernikahan dan acara adat lainya.

Cara pemakaian tanjak yang benar dengan jarak 2 jari di atas alis kita dan memposisikan Simpul ketupat palas harus berada diatas telinga kanan kemudian lawinya otomatis akan mengarah ke kiri sampai ke bagian belakang kepala.

Dalam budaya nusantara sangat banyak pakaian adat yang menggunakan ikat atau penutup kepala pada pakaian prianya. Seperti Suku Jawa dengan “Blangkon”. Lalu pada suku sunda biasa disebut “Toopong, sudeng atau iket”. Begitu juga pada masyarakat bali. Pada suku sasak di lombok juga mengenal ikat kepala ini dengan nama ” capuk “. Begitu juga dengan suku baduy yang sering kita lihat juga menggunakan ikat kepala sejenisnya.

Tanjak ini membuktikan identitas suatu budaya, begitu banyak suku di nusantara ini menggunakanya dengan bentuk dan nama yang berbeda beda. Itu semua untuk menunjukan identitas budaya dan adat mereka sendiri. Sebagai warga negara yang berbangsa dan berbudaya, mari kita lestarikan Tanjak ini dengan menunjukan pembuatan dan penggunaan tanjak yang benar sesuai kaidah budaya serta adat-istiadat kita masing-masing.

Orang melayu ni kalau tak bepantun macam ada yang kurang rasanya. izinkanlah saye sedikit bepantun.

 

Sejak petang langit mengimbau..

Pesona kalbu awan berarak..

Tanjak Solok Timbo sangat memukau..

Berwarna Hitam dan juga perak.

 

Lantai ditebuk terkena duri..

Berhari membina lesu pulak..

Dipakai Datuk pesona negeri.

Seri warna Hitam dan perak.

 

Lumut Perak Abang dah Dekat..

Impian Mekar Mari Disemai..

Disebut Tanjak Untuk Pengikat..

Pakaian pembesar Negeri Dumai.

 

Simpul lipat Si Kain Songket..

Dibawa Datang Negeri Seberang..

Walau Mate Cik Adik Nampak Sepet..

Kau Tetap Juga Yang Ku Sayang.

 

 Semoga dapat menambah wawasan dan pengetahuan pembaca, sekian terimakasih.

Narasumber : Syahrul Afandi

 

Advertisements

63 thoughts on “Budaya Melayu : Lagi-lagi Tanjak

  1. Sering liat kalo ada saudara di kampung nikahan, make iket kepala ini (tanjak) . Izinkan saya berbalas pantun.
    Ikan tenggiri di tangkap budak
    Dimasak gulai rasanya sepat
    Elok nian melihat tanjak
    Bikin hati jadi terpikat

    Liked by 1 person

    1. Maaf bro 😂. Harusnya palembang dan riau itu ga jauh beda bentuk pakaian adatnya. Tetap sama sama menggunakan tanjak. Mungkin di palembang penggunaan tanjak tidak seperti di riau. Di riau skrg ini lg gencar gencarnya para seniman dan pemuka adat mempromosikan Tanjak sebagai bentuk identitas melayu riau yang sebelumnya sempat hilang2 timbul.

      Di Dumai, walau kita sekedar jd tamu di acara pernikahan pun ada yg bangga menggunakan Tanjak. Apalagi pihak keluarga yg menikah. Seperti acara MTQ Provinsi Riau yg skrg lg terselenggara di Dumai. Para tamu semuanya memakai Tanjak dan baju melayu yg dr dlu sudah indentik seperti baju gamis atau koko.

      Kalau penari yg ada laki lakinya biasanya pasti memakai tanjak.

      Like

  2. Wah tengku, makasi banyak loh postingannya makin memperkaya pengetahuan ttg budaya melayu.
    Tanjak konsisten ya cara melipatnya, walau makin cantik..
    Setiap kebetulan baca postingan Tengku itu ga lain dr Melayu. Kerenn!!

    Like

    1. Yaa lebih tepatnya Kalimantan Barat yg didominasi oleh 2 suku besar yaitu suku Dayak dan suku Melayu. Kalau pakaian adatnya suku melayu nya sama dgn suku melayu pd umumnya. Sedangkan kalimantan utara,tengah, selatan dan timur berbeda. Hanya di kalbar yg ada suku melayunya

      .

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s